↑ Return to SASTRA&BUDAYA

Print this Page

Sinopsis Cerita Rakyat Sumbawa “Sari Bulan”

Kemewahan belum tentu memberikan kebahagiaan. Dan kebahagiaan belumlah pasti merupakan kemewahan. Hal seperti itu dirasakan oleh Datu Panda’i, putera mahkota suatu kerajaan di daerah Sumbawa: bagian timur. Kemewahan istana serta segala pelayan istimewa buat dirinya tak mampu menghIlangkan duka cita yang selalu diderita.

Pada suatu malam Datu Panda’i bermimpi. Mimpi itu sangat mempengaruhi jiwanya. la bermimpi mengawini seorang putri yang bernama Sari Bulan. Putri itu cantik jelita. Inilah yang mengganggu jiwanya. la selalu sangsi, apakah ia akan mendapatkan hal seperti itu dalam alam nyata.

Maka segala daya upaya untuk menenangkan hati diikhtiarkan, tetapi tak ada jalan lain kecuali memperoleh gadis serupa dengan gadis yang dikawininya dalam mimpi. Karena itu dipersiapkanlah suatu armada yang kuat dan kokoh. Datu Panda’i sendiri turut serta dalam rombongan sebab tak mungkin armada akan memperoleh gadis yang dimaksud tanpa mengetahui wajah gadis yang dicari .

Dalam perjalanan armada pencari gadis Sari Bulan memakan waktu cukup lama. Puluhan kali mereka kehabisan bekal. Ratusan Selat dan laut yang telah mereka layari. Banyak gadis yang bernama Sari Bulan, tetapi syarat-syarat yang diidamkan oleh Datu Panda’i belum memadai. Ada yang putih kuning berambut panjang tetapi celaka karena gadis itu menderita kudis.”

Pada hari yang ke 672, perahu kembali kehabisan air. Rombongan berusaha mencari pantai terdekat. Didekatinya pantai yang mirip senuah pelabuhan dan dihuni oleh banyak manusia. Awak perahu diturunkan. Mereka ditugaskan mencari air minum.

Menjelang Asar terdengar cekikikan gadis-gadis. Mereka mendekati sumur untuk mengambil air. Kian dekat mereka tampak makin Jelas dari balik semak dan pagar keliling. Melihat orang asing mereka merasa cemas, tetapi mereka bekerja terus. Periuk diletakkan menanti giliran menimba.

Mereka tampak cantik, montok, manis, sehat dan remaja. Tampaknya tak layak sebagai pencari air. Awak perahu terpesona. Mereka kagum memandang gadis-gadis itu. Bibimya terasa kaku, Lidah terasa kelu. Semua diam, lupa akan tujuannya. Demikian juga gadis-gadis itu. Mereka pun sampai membisu.

Setelah regu pengangkut air kembah dari perahu, barulah mereka ingat akan tugasnya untuk mencari pasangan hidup buat Datu Panda’i. Salah seorang awak perahu membuka percakapan Dia berusaha keras menguasai diri. Agak lama bibirnya bergerakgerak. Dan dengan suatu getaran terlontar kata-katanya.

“Kalian cantik-cantik semua ya?”

Mendengar itu gadis-gadis itu tersenyum.

“Adakah di kampung kaIian, gadis bernama Sari Bulan?” “0, ya, ada. Yang satu baru sebulan kawin. Sari Bulan yang lain

scbentar lagi datang juga mengambil air.”

“Benarkah itu”

“Ada apa kalian dengan Sari Bulan. Apakah kalian mempunyai pertalian darah “

“Kami cuma ingin tahu,” jawab awak perahu membohong. Semua yang dilihat dan didengar diceriterakan kepada Datu Panda’i. la diminta turun sebelum hiruk pikuk gadis pengangkut air itu mereda. Kecantikan gadis kampung tersebut ingin dibuktikan sendiri oleh Datu Panda’i. Ia turun dengan tidak membawa tanda kebesaran. Pada saat yang tepat, Datu Panda’i bertemu dengan gadis-gadis itu. Mereka datang dari arah kampung, sedang Datu Panda’i dari laut. Seorang di antaranya dikawal oleh bapaknya. Para awak perahu seorang pun tak ada yang buka mulut. Semua diam. Dan Datu Panda’i terpaku, kagum menikmati kecantikan dan kemolekan gadis tersebut.

Suatu mimpi yang kini menjadi kenyataan. Dalam hati Datu Panda’i bersyukur. Dengan diam ia mencari tempat duduk di benjolan akar sebatang pohon yang terletak di dekat sumur.

Betapa pun jumlah biaya yang telah habis serta pengorbanan yang besar, kini idamannya hampir terpenuhi. Tapi benarkah gadis itu bernama Sari Bulan. Hal itu bukan lagi menjadi persoalan. Paras dan kecantikannya tepat seperti apa yang diimpikan. Siapa pun namanya tak akan menjadi halangan. Tiba-tiba bapak gadis itu mendekat ke sumur dan berkata.

“Sari Bulan, bawa periukmu kemari!”

Mendengar nama itu darah berahi Datu, Panda’i tersirap. Datu, Panda’i merasa yakin bahwa dia tidak salah dengar. Dan sementara itu juragan Datu Panda’i yang tahu tugas itu, langsung melanjutkan percakapan untuk menghalau kesenyapan.

“Bapak, dapatkah bapak menolong kami?”

“KaIian terlalu sopan. Kalian dari mana dan hendak ke mana?

Tak ada alasan bagi diri kami untuk menolak kedatangan kalian ke kampung atau ke rumah kami.”

“Tujuan kami cuma satu, yaitu mencari pasangan hidup Datu Panda’i.”

Mendengar kata-kata itu tersirap darah sang bapak. Suasana kembali hening. Sementara itu suara timba terdengar turun naik. Ketika gadis yang bemama Sari Bulan itu mengangkat periuk air, sang bapak mempersIlakan mereka dengan sangat serius. Bukan sekedar basa basi. Dari sinilah diawali suatu pergaulan, yang akhimya memberikan kebahagiaan kepada Datu Panda’l. Ia berhasil mempersunting Sari Bulan, idaman hati yang dicapai dengan perjalanan panjang.

Di atas segala kemeriahan itu, kebahagiaan Datu Panda’i tiada taranya. Sari Bulan pun demikian. Dahulu ia,selalu dipingitdan dikawal oleh ayahnya, tetapi kini ia bebasmendampingi Datu, Panda’i. Kebahagiaan mereka hampir tak terbatas. Kecintaan Datu Panda’i pada Sari Bulan pun tiada berhingga. Demikianlah diceriterakan .

Mereka hidup amat rukun dengan semua keluarga serta kaum kerabat. Dan Datu Panda’i tak ingin memboyong Sari Bulan ke istana secepatnya. Ia selalu menenggangrasapada semua keluarga ,Sari Bulan. Upacara’ tujuh bulan kehamilan Sari Bulan diselenggarakan di rumah mertuanya. Sejak ngidam, segala keinginan Sari Bulan dipenuhi dan diusahakan sedapat-dapatnya oleh Datu Panda’i.  Kecuali suatu hal yang belum dapat dipenuhi oleh Datu Panda’i

, yaitu memberikan daging menjangan: Memang sulit. daging’

menjangan itu harus dicari kepulau-pulau’ rakit atau ke pulau Dewa.

Akhirnya tibalah saat Datu Panda’i harus membawa istrinya ke istana indah di negerinya. Mertuanya memberi nasehat.

“Dalam perjalanan atau pelayaran, jangan sampai singgah di pulau Dewa. Apa pun yang terjadi.”

Demikianlah pelayaran “dalam suasana perihatin. Keinginan istrinya belum terpenuhi. Sari Bulan dalam keadaan hamil. Terlalu banyak permintaan. Yang sangat berat adalah keinginannya untuk menikmati daging mcnjangan. Bahkan sampai menitikkan air mata dan liurnya mengalir dengan deras.

Keadaan ini melupakan Datu Panda’i akan nasehat mertuanya. Cinta dan kasih sayang terhadap Sari Bulan tak ada yang me-nandingi. Datu Panda’i memutuskan untuk memburu menjangan di pulau Dewa. Dan perahu pun berlabuhlah di salah satu pantai pulau iru. Datu Panda’i pun dengan segenap pengikutnya turun ke darat. Tinggal Sari Bulan seorang diri.

Tersebutlah, bahwa penghuni pulau Dewa adalah para Jin, dan iblis, dengan segala macam kelicikan-kelicikan dan kejahatannya. Konon di daerah pelabuhan tempat Sari Bulan berlabuh, termasuk dalam wilayah kekuasaan mereka.

Di antara penduduk pulau tersebut terdapat pula makhluk yang bernama Doro dan pelayan perempuannya bernama Kunti. Segala macam pekerjaan dikerjakan oleh Kunti demi untuk Tuannya. Kunti adalah gadis iblis dengan sifat-sifatnya yang amat buruk.

Perahu itu adalah perahunya Sari Bulan yang sedang ditinggalkan oleh suaminya. Dan sampan lumpan itu pun mendekati perahu.

“Perahu siapa ini,” teriak Kunti dari bawah.

“Perahu Datu Panda’i, suaminya Sari Bulan,” jawab Sari bulan dari atas perahu.

“Kau sendirian?” tanya Kunti sambil memendam rencana jahat. Dalam sekejap, Kunti berhasil menaiki perahu. Tanpa banyak bicara Kunti merampas semua milik perahu. Dan terjadilah perebutan kedudukan, kedudukan sebagai permaisuri Datu Panda’i.

Akhirnya Sari Bulan yang sedang hamil itu pun tak kuasa melawan iblis. Ia cuma menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Semua keadaan diterimanya dengan tabah. Sungguh mengerikan. Kedua mata Sari Bulan dicungkil alen Kunti. Dalam keadaan tak berdaya, Sari Bulan digelindingkan ke laut. Kunti merasa puas dengan keadaan itu. Rambut Sari Bulan yangpanjang dan menarik itu, tersangkut pada kemudi di dalam air. Dalam kekuatiran Kunti pun menyusun siasat baru. Pakoknya, Kunti harus dapat menggantikan kedudukan Sari Bulan sebagai permaisuri Datu Panda’i. Untuk itu segala macam perhiasan yang dibawa oleh Sari Bulan dicabanya satu demi satu, namun tak berhasil. Sari Bulan indah rupawan, sedangkan kunti bermuka jelek.

Kini diceriterakan Datu Panda’i kembali dari perburuan dan hanya memperoleh seekar anak menjangan. Daripada tidak sama sekali, lebih baik membawa hasil demi untuk memeriuhi keinginan Sari Bulan yang sedang hamil.

“Betapa nanti ocehan para penyambut di pelabuhan. Berkelana jauh cuma mendapatkan istri yang buruk sejelek ini.” ltulah yang dipikirkannya. Akhirnya diceriterakan, kapal berlabuh di pelabuhan kerajaan.

Para penyambut memenuhi darmaga. Rasa malu pada Datu Panda’i kian membenam. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Datu Panda’i. Sedang Kunti permaisuri haramitu, sebaliknya amat bertingkah. Tak mau turun tanpa diusung di atas tandu. Kereta tak laku buat Kunti. Usungan harus di atas pundak duabelas pengawal. Akan halnya Datu Panda’i yang ketika waktu berangkat tiada riang, kini juga dalam keadaan seperti semula. Tak ada rasa bangga lagi seperti ketika bersanding dengan Sari Bulan.

Mencari idaman dan menyusuri dunia dalam pengembaraan yang panjang hanya memperoleh Kunti yang buruk. Kutukankah ini, atau cobaan? Datu Panda’i tidak mengetahuinya. Hatinya rusak tiada berobat. la ingin sekali melupakan semuanya.

Maka akhirnya Datu Panda’i menjadi penjudi tingkat tinggi.

Pacuan kuda, sabungan ayam dan sederet macam aduan yang lain digaulinya. Harta kerajaan istana tak luput tergaelai. Untunglah tak sampai membangkrutkan rakyatnya. Pada pelayaran Datu Panda’i dari pulau Dewa ke pelabuhan kerajaan, dengan tak diketahui terseret tubuh Sari Bulan yang tak sadar akan dirinya lagi. Kedua matanya berongga tak berbiji. Dalam keadaan hamil, Sari Bulan terlepas dari sangkutan kemudi, dan langsung diselamatkan oleh kerang raksasa. Dengan kerang raksasa itu, Sari Bulan terbawa ombak dan terdampar di pantai, Sari Bulan melahirkan anaknya di pantai dalam keadaan tak sadar.

Selanjutnya dikisahkan Sari Bulan bersama anaknya yang bernama Aipad hidup dalam segala kemelaratan. Hingga Aipad bisa berjalan dan berbicara, nasib mereka tidak berubah. Mereka anak beranak hidup dari hasil matila,

Kerang raksasa yang menyelamatkannya dalam pelayaran tak lama hidup. Kulitnya dijadikan tempat berteduh. Sari Bulan dengan anaknya tak sanggup membangun.

Pada suatu hari sebagaimana biasa, Aipad kembali matila kepada seorang tak dikenalnya. Dimintanya seekor ikan yang terbesar di antara ikan-ikan lain. Nelayan tersebut diketahui sebagai keluarga yang tak mempunyai anak. Ia sangat senang dan sayang pada Aipad. Tapi Aipad tak pernah mau tinggal bersamanya, dan malahan Aipad merahasiakan tempat tinggalnya.

Konon dari perut ikan yang diberikan oleh nelayan mandul tersebut, Aipad menemukan kedua biji mata ibunya. Ibunya kembali seperti sediakala dengan memasang kedua biji mata itu. Dan kejadian ini diceriterakannya kepada nelayan itu, Untuk membalas jasa baik nelayan tersebut, Aipad menawarkan diri bersama ibunya untuk mengabdi kepada keluarga tersebut.

Betapa girangnya nelayan itu. Ia telah memperoleh dua orang murid. Selama ini ia sangat mendambakan kehadiran seseorang anak di tengah-tengah rumah tangganya. Dari kejadian ini diketahuilah nama nelayan itu. Ia bernama Tangko.

Setelah Aipad bersama Sari Bulan berada di keluarga nelayan itu Tangko menjadi amat bahagia. Rezeki menjadi murah. Aipad sangat dimanjakan. Kegemaran Aipad yang utama adalah pacuan kuda, sedang Sari Bulan membuka usaha sulam menjulam. Hasil karyanya memang indah. Latar belakang hidupnya semua diceriterakan kepada Tangko, karena itu Tangleo bangga dan bahagia.

Biarlah, kita akan melihat bagaimana perjalan, hidup’ dengan sang nasib,” kata Tangko menyambung ceritera Sari Bulan.Ketika ceritera itu diucapkan Sari Bulan, Aipad sedang asyiknya bertaruh pada suatu perlombaan pacuan kuda yang terbesar di daerahnya.

Begitulah. Beberapa pacuan dan perlombaan selalu diikuti oleh

Aipad. Ia hampir tak pernah kalah. Aiapad sangat teliti memelihara kuda. Tempat memandikan kuda pun tersendiri. pula. Beberapa tahun kemudian, terdengarlah berita bahwa kerajaan akfin mengadakan suatu pacuan kuda secara meriah dengan taruhan’ yang amat besar. Taruhan terendah adalah sepasang kerbau, Aipad berketetapan hati untuk ikut serta. Apa pun yang terjadi perlombaan itu adalah perlombaan luar biasa.

Pembesar-pembesar istana hampir semua turut serta. Karena semua orang maklum bahwa taruhan raja adalah mahkotanya. Kekalahan raja berarti mahkota berpindah, dan sebaliknya yang kalah jadi budak istana, dan harta bendanya lenyap.

Demikianlah pacuan kuda dimula. Banyak hati dicekam debaran hati yang kuat. Berbagai mantera dan doa berseliweran diucapkan. Dan, Yang Maha Kuasa bertindak lain. Banyak orang membunuh diri karena kalah.

Kuda Aipad meringkik terus menerus. Penonton menjadi heran di panggung kehormatan. Timbul keanehan. Kuda Aipad yang senang meringkik itu, suaranya aneh.

“Huiiihiiihiii ‘” abeaaaak he ke hua hapaaa … hapaaaaahe ke huaaaaa abaaaak !”

“Ahek,” kata Aiapad pada temannya. “Aneh kudaku, ada apa ini? Apa yang akan terjadi?”

Pihak raja dan pembesar-pembesar pun terpaku dan merasa khawatir. Dalam hati mereka bertanya, menanyakan apa yang akan terjadi. Dan akhirnya perlombaan dimenangkan oleh Aipad. Tapi ia tidaklah segembira Tangko ayah angkatnya.

“Aipad jadi raja. Aipad  jadi Datu. Anak tidak tahu Bapak.

Bapak tidak mengenal anak, “terial Tangko di arena. Datu Panda’i pucat Penentuan acara penyerahan mahkota diumumkan oleh Perdana Menteri, bahwa yang menang adalah Aipad anak Tangko. Ia diharapkan hadir bersama seluruh keluarganya di istana nanti malam.

Selayaknya sebagai pemenang, Aipad bersama ibu berangkat ke istana dengan segala keindahan yang dapat dijangkaunya.

Pada kata penerimaan Aipad sebagai Datu, raja baru, Aipad memperkenalkan seluruh keluarganya dan tentang Sari Bulan ibunyalah yang lebih banyak diceriterakannya. Tak ayal lagi, Panda’i menitikkan air bahagia dan haru. dan, semua hadirin dan rakyat bersuka ria dengan amat puas. Kembalilah Datu Panda’i, hidup rukun bersama anaknya yang berhak menjadi raja dan Sari Bulan kembali menjadi istrinya. Sungguh kekalahan yang nikmat bagi Datu Panda’i. Untuk mengenang jasa dan jerih payan Tangka, bapak angkatnya, yang memelihara dalam kasih sayang seorang bapak, maka Aipad memutuskan untuk mengganti nama kerajaan menjadi kerajaan Tangka. Akan halnya Kunti”,yang mengkhianati Sari Bulan, aleh Aipad dihukum dalam sumur yang dalam. Kunti meringkuk dalam sumur yang tertutup rapat. Cuma sebatang buluh buat saluran pernapasan. Dan Kunti mati dalam sumur tersebut.

Kulit kerang raksasa yang menyelamatkan Sari Bulan, hingga saat ini masih ditemui di tempat ceritera ini terjadi, di sebelah Kecamatan Empang. Demikian juga dalam Tangka, Aipad, Sari Bulan dan pulau Dewa, masih dapat kita saksikan.

 

Permanent link to this article: http://ihinsolihin.com/sastrabudaya/sinopsis-cerita-rakyat-sumbawa-sari-bulan/

Adsense Indonesia zwani.com myspace graphic comments Haiiii...Komentarnya Dong...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tautan komentar adalah nofollow free.